Jadi Korban Kebejatan Wanita

Posted on

Tadi makan siang dengan teman kerja. Enak, berdua-duaan.

Tapi kok ya bisa-bisanya gitu loh, tiba-tiba ada perempuan muda yang mengumpatku dengan tidak senonoh tepat didepan hidung, dalam keramaian restoran self service yang sedang penuh pembeli karena bertepatan dengan jam makan siang.

Inilah yang dinamakan sial. Tidak sengaja tertimpa tangga. Hari ini aku telah menjadi korban kebejatan seorang perempuan yang dengan nyinyir mengumpatku begitu saja atas kesalahannya sendiri.

Singkat cerita kami selesai makan dan masih ngobrol-ngobrol cantik di meja. Bukan ngerasani teman kerja tapi berbicara tentang Marrakech karena dia sudah pernah pergi kesana dan minggu depan aku akan terbang kesana.

Björn ingin ngopi, aku ingin titip kalau dia tidak keberatan dan dia menyanggupinya, maka aku memberikan koin 2€ untuk secangkir kopi.

Björn berdiri dalam antrian mesin kopi, aku duduk sendiri mati gaya; lihat meja, pegang-pegang ujung kuping, ingin ngupil tapi malu, lihat sana… lihat sini…. sampai akhirnya… Oh benda apakah itu?

Sebuah bandul kalung! Bentuknya benar-benar aneh, atau unik. Termasuk besar untuk ukuran sebuah bandul kalung. Tetapi sangat-amat unik, atau indah, atau apalah namanya, pokoknya seperti punya daya tarik yang mempesona.

Aku secara tidak sengaja jadi mengamatinya lebih seksama, sampai-sampai agak memajukan tubuhku karena bandul kalung itu berada dua meja didepanku, dipakai oleh seorang perempuan muda dengan gaun berbelahan dada rendaaaaah… sekali!

Aku tidak tahu dengan pasti apa keindahan yang tersembunyi dalam bandul kalung itu karena si empunya buru-buru menutupinya dengan jaket yang dirapatkan ke dadanya.

Dan aku terperangah… Dan aku tersadar bahwa aku baru saja melakukan kesalahan besar…. Aku tidak berani lagi menatap perempuan itu, yang ada adalah aku memasang wajah sangat-amat menyesal sebisa mungkin… I’m sorry….

Ternyata cerita tidak berhenti sampai disitu karena dia tidak memaafkanku….

Björn datang, memberikan kopiku dan mulai mengambil kursinya lagi. Pada saat yang bersamaan bandul kalung yang memukau itu tiba-tiba berada disamping meja kami, masih tergantung pada leher jenjang si perempuan muda cantik bergaun dengan belahan dada yang sangat rendaaaaah… sekali itu.

Rupanya dia sudah selesai makan karena kedua tangannya menenteng tatakan berisi piring dan gelas bekas makannya dan dia akan mengumpulkannya…. sementara dia membawa jaket dan tas kecilnya, pastilah dia segera pergi dan aku merasa aman kembali…. Tapi….

“Du… Arschloch…!” katanya dengan lantang-mantap-berapi-api sambil memandangku dengan tajam.

Mau tahu apa artinya ‘Du… Arschloch…’?
Iya, itu sama persis kasarnya dengan, “You… Asshole…!”.

Aku terkesiap, sampai tidak bisa berbuat apa-apa karena diumpat secara kasar seperti itu. Yang ada cuma bisa bengong, melongo dan memandang perempuan itu dengan tidak karuan… Mau balas mengumpat? Perempuan kok dilawan. Lagipula memang aku tadi yang salah telah mengamati bandul kalungnya dengan seksama. Pastilah dia mengira bahwa aku tadi telah memelototi teteknya yang hampir terbuka semua itu… Okay, itu bukan kesalahan yang disengaja.

Itu berlangsung selama beberapa detik. Björn tak kalah lebar melongo-nya, melihat dengan kaget ke arah perempuan itu kemudian melihatku, masih dalam posisi setengah duduk… Sampai akhirnya perempuan muda yang cantik dengan bandul kalung misterius bergaun belahan dada yang rendaaaaah sekali itu berlalu.

Björn dan aku jadi lihat-lihatan, masih dalam keadaan lebar-lebaran melongo dan dia pelan-pelan berhasil menduduki kursinya. Kemudian menyuruhku meminum kopiku.

“Skandal sex besar apakah yang telah kamu lakukan dengannya?” Björn menuduhku dengan pertanyaan itu.

“Bukan, bahkan aku tidak mengenalnya dan aku juga tidak punya rencana untuk berubah menjadi hetero dalam waktu dekat…” Jawabku sekenanya, mentalku masih terpukul dengan telak oleh umpatan perempuan itu.

Kemudian aku menceritakan tentang tragedi bandul kalung misterius itu dan dia menyetujuinya bahwa sepintas dia juga melihatnya dan itu adalah bandul kalung yang benar-benar aneh…

“Padahal dia tidak tahu yang sebenarnya bahwa aku tidak peduli dengan seberapa besar teteknya, atau seberapa banyak silikon yang dijejalkan kedalamnya….” Kataku dengan jengkel. Dan selama beberapa saat Björn harus rela menjadi tempat sampahku untuk membuang segala kejengkelan.

Lihatlah Bjön, alangkah anehnya perempuan-perempuan muda itu, mereka berpakaian seenaknya, dadanya dipamerkan kesana-kemari, pahanya diumbar seantero kota, kalau secara tidak sengaja seperti tadi kita melihatnya, kita akan dibilang asshole… Arschloch… Apa sih maksudnya berpakaian seperti itu…. Kalau kita balas mengumpat, malah dilaporkan ke polisi dan kita kena denda dengan tuduhan pelecehan seksual… Gantian kita yang mereka pelototi, kita tidak punya hak untuk mengatai mereka dengan Arschloch, terus mereka akan lapor polisi, kita lagi yang kena denda dengan tuduhan merendahkan martabat perempuan…. Payah deh….

“Ya sudah kamu lihat dadaku saja sekarang dan aku tidak akan mengataimu dengan arschloch…” Kata Björn.

“Ciih… Dadamu tidak berbulu…”

“Eh, mau lihat?”

“Nö, aku tidak tertarik dengan kamu…”

“Let’s try…”

“Nöööö… I don’t want to make affair with colleague”

“Seriously, i want to do with a man…”

…Eh, Björn ini bencong atau apa sih kok jadi nantang gitu? Untung kami sudah sampai kantor lagi setelah berjalan beberapa puluh meter tadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *