Cinta Sampai Mati

Posted on

Hari Sabtu kemarin emaknya Tommy merayakan pesta ulang tahun yang ke 74. Pestanya dibagi dua, yang kemarin itu acaranya adalah brunch dengan kakak-adik dan saudaranya yang lain dan nanti hari jumat depan bersamaan dengan hari libur perayaan Oster, dia akan bikin pesta buat kami; anak, cucu, menantu dan tentu saja satu-satunya calon menantunya yaitu aku, juga diundang.

Nah perayaan yang kemarin itu unik. Itulah pertama kalinya aku berkumpul semeja dengan banyak opa-oma sehingga suasananya seru. Kalau bicara harus dengan suara agak kencang agar didengar oleh lawan bicara. Maklumlah, semua sudah berusia diatas 75 tahun.

Dan hari itu aku dikenalkan dengan para sesepuh keluarga itu. Asik…

So, jam 12 siang tepat aku turun dan langsung masuk kerumah emaknya Tommy, sementara Tommy sudah pergi duluan setengah jam yang lalu. Oh iya, mereka sebenarnya tinggal dalam bangunan yang sama tetapi terpisah, banguan rumah itu terbagi menjadi dua rumah tinggal, Tommy di atas dan emaknya tinggal dilantai dasar dan mereka tidak mempunyai pintu penghubung. Jadi masing-masing dari kami sudah tahu dimana letaknya kunci pintu disembunyikan, iya… dibawah keset depan pintu…!

Ternyata semua sudah hadir ketika aku masuk, emaknya Tommy langsung menggelandangku ke tengah-tengah mereka, “Nah ini Bedjo, pacarnya Tommy…” Katanya memperkenalkanku kepada mereka semua….

“Siapa namanya?” Seseorang bertanya, dia menjawab…

“Siapa?” Yang lain ternyata tidak mendengar, dan bertanya sekali lagi… Dan sesaat lamanya mereka sibuk mengulang-ulang namaku…. Yang lain salah, yang satu membenarkan, yang satu jadi ikutan salah, ganti dibenarkan oleh yang lain… Suaranya kurang kencang, ditanya sekali lagi, menjawab sekali lagi setengah berteriak…. Aku membiarkannya dan berkenalan dengan mereka satu persatu yang ternyata pada akhirnya hanya empat dari sepuluh nama yang masih aku hafal sampai sekarang….

Onkel Hermann, namanya mudah diingat karena namanya sama dengan tetanggaku di desa….

Onkel Heinrich, namanya gaya, mengingatkanku akan nama bangsawan Jerman jaman dulu….

Onkel Willi, namanya lucu, mirip itu lho… Billy Boy…. Kondom yang bisa dibeli pada mesin otomatis di stasiun… Orangnya juga lucu….

Tante Dina, karena kami sudah pernah bertemu ketika kami mengunjunginya pada saat mereka pergi liburan ke Denmark musim dingin yang lalu….

“Sini – sini – sini… aku ingin duduk dengan kamu, katanya Dina kamu pintar masak dan aku harus bertanya beberapa hal….” Seorang tante membawaku duduk dan sesaat lamanya aku harus menjelaskan nama-nama rempah-rempah yang aku gunakan sebagai bumbu, bagaimana meraciknya, bagaimana tandanya sudah matang…. dan aku bicara layaknya seorang duta wisata, lol…

Aku lupa nama tante itu tetapi Tommy bilang dia adalah adik perempuan mendiang bapaknya.

Ternyata asik juga duduk semeja dengan para oma dan opa, tak ada bosannya. Kami yang muda-muda ini – Tommy, Anita (Mbakyunya Tommy) dan aku – jadi ikut terbawa suasana santai layaknya mereka yang sudah puas dengan hidup, sudah cukup bekerja dan menikmati hari tua dengan santai, penuh gelak tawa….

Emaaak…! Oh, aku jadi ingat emak di desa, pastilah dia juga sudah santai dan tenang menjalankan ibadah. Dengar-dengar, bulan lalu dia melakukan tour ziarah ke makam Wali Songo bersama teman-teman pengajiannya. Yang aku tahu itu adalah tour kesukaannya. Entah sudah berapa puluh kali dia mengambil tour dengan rute yang itu itu juga. Nantilah kalau aku pulang aku akan membawakannya kamera saku digital. Siapa tahu nanti dia juga akan suka melakukan backpacking…. Terserah lah, dia sudah punya banyak waktu…

Pada saat-saat tertentu Tommy menjelaskan bahwa tante itu adalah istrinya onkel itu… Tante ini adiknya emaknya, yang itu kakak bapaknya, istrinya yang duduk disana… Dan yang itu adalah suaminya ini… sementara istrinya onkel yang itu sudah meninggal…..

Yang mana…? Aku juga sudah lupa! Bahkan jika sekali lagi bertemu dijalan-pun aku tidak yakin bahwa aku akan mengingat wajah mereka…. Sulit mengingat orang pada suasana ramai seperti itu…

Dan didalam suasana hangat penuh canda tawa yang riuh rendah seperti itu aku masih sempat merenung… Alangkah bahagianya oma-opa itu, masih tetap berpegangan tangan dengan pasangannya… Sementara beberapa orang dari mereka sudah ditinggal terlebih dulu oleh pasangannya… Pastilah mereka telah saling menyayangi satu dengan lainnya, bahkan sampai pasangannya meninggal terlebih dulu….

Apakah kami akan tetap saling menyayangi satu dengan lainnya seperti mereka, menjalani hari tua bersama, bahkan sampai salah satu dari kami berpulang terlebih dulu?

Sulit, tapi bukan tidak mungkin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *