Bintang di Atas Gurun

Posted on

Sejak awal musim dingin yang lalu aku membaca sebuah roman karya Ruth Maria Kubitschek, Sterne Über der Wüste (Bintang di Atas Gurun), yang bercerita tentang seorang wanita paruh baya bernama Sophie von Contard yang hidup di Maroko bersama suaminya Muad, seorang guru sufi yang juga kepala suku Berber (Tribe yang hidup dan menguasai Afrika Utara).

Cerita cinta yang menyedihkan, penuh tantangan namun sangat indah ditulis dengan latar belakang kehidupan misterius padang pasir disebuah kasbah (is a type of medina, Islamic city, or fortress) di Maroko.

Aku masih sampai pada halaman 77 dari 154 halaman. Jadi belum bisa banyak bercerita tentang isi roman ini (menyedihkan sekali ya, rekor membacaku… Bayangkan, aku memulainya pada awal musim dingin!).

Kembali pada kisah cintaku sendiri….

Akhir-akhir ini, seperti yang aku tulis pada posting sebelumnya, kami sibuk membuat rencana liburan bersama selama seminggu pada bulan Mei mendatang.
Kami mempertimbangkan untuk pergi ke salah satu negara di Eropa Timur tapi belum juga memutuskan akan pergi ke negara mana sudah kami coret karena aku ingin menikmati hangatnya matahari.

Ke Asia… Juga dicoret karena ini cuma seminggu dan kami tidak ingin duduk berlama-lama di pesawat.

Mesir…
Adalah ide dari Tommy. Tapi aku masih kapok dengan perlakuan tidak senonoh dari seorang guide disana beberapa tahun lalu pada saat aku akan melakukan safari ke gurun sahara. Tommy memahaminya setelah aku bercerita secara kronologis dan kami mencoret Mesir sebagai tujuan liburan. Aku tambah dengan berita aktual beberapa tahun lalu; Seminggu setelah aku pulang dari Mesir, serombongan turis dari Jerman diculik oleh teroris tepat pada jalur dimana aku akan melakukan safari waktu itu, Tommy masih bisa mengingat berita besar dari TV waktu itu.

Tunesia adalah ide kami bersama, tetapi Tommy tidak terlalu menyukainya karena “Terlalu banyak orang Jerman yang berhanduk-handuk di pantai… ” Katanya beralasan.

Maroko….
Aku punya ide. Tommy ingin tahu alasanku jadi aku menjelaskannya: Dekat, hangat, punya kultur yang unik dan menarik, makanan orientalis yang lezat, gurun pasir yang selalu misterius, dan aku sedang membaca roman Sterne über der Wüste….
“Dan kita akan tinggal di Marrakesh, itu sebuah kota tua ditengah gurun yang tidak terlalu modern, banyak Kasbah, dan jauh dari pantai… Dijamin ndak banyak orang Jerman yang berhanduk-handuk ria bergelimpangan diatas pasir pantai…”

Terus berhari-hari kami googling tentang Marrakesh, lihat foto-foto, baca-baca kultur… Dan kami berdua menyukai Marakesh….

“Oh ini ada hotel seharga 25€ semalam sudah termasuk kontinent-frühstück!” Kata Tommy suatu saat sambil menunjukkan sebuah website.

Aku bingung, Kontinent-frühstück itu sarapan model apa ya….
“Ya… mungkin ada susu hangat dari gajah atau unta, Bratwurst dari daging menjangan, Leberwurst dari singa…. Telur buaya goreng… Salad pakai daun kaktus…. Pokoknya yang bernada-nada Afrika lah….!” Katanya asal-asalan… Dasar bencoooong….!

Selanjutnya adalah aku akan berdiskusi dengan Chef-ku tentang waktu yang tepat untuk cuti seminggu pada bulan Mei, pesan tiket pesawat, cari hotel murah namun layak huni dan aku sudah tidak sabar menunggu bulan Mei….

Aku selalu mengagumi bulan dan bintang diatas padang pasir, dan makanan oriental yang pedas dan lezat disana….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *